by

Gelora Kebangkitan Nasional

taufiq amrullah

Taufiq Amrullah, ME
Direktur Progress Indonesia


Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei 1908 – 20 Mei 2020) mengirimkan pesan kuat tentang semangat perubahan. Latar sejarah selalu meresapkan energi jiwa untuk memperbaiki keadaan di masa depan. Hari ke-27 Ramadhan yang damai dan lembut ini teriring pesan yang menggugah jiwa, “Kita bisa bangkit! Kita bisa melakukan perubahan!”

Sejarah negara bangsa adalah sejarah kebangkitan dan kejatuhan, berdiri lalu jatuh dan bangkit lagi. Indonesia adalah miniatur peradaban dunia, mempelajari sejarahnya, hidup dalam kekiniannya, dan mempersiapkan masa depannya adalah rangkaian penjiwaan yang konprehensif. Tanggal 20 Mei 2020, kita sedang menapaktilasi sejarah kebangkitannya. Lebih dari 100 tahun yang lalu, negeri ini dengan para pejuangnya sudah merencanakan kebangkitan dan perubahan besar untuk Indonesia. Refleksi ayat suci al Qur’an tentang perubahan benar-benar tertanam dalam jiwa-jiwa kaum pergerakan pendahulu kita, bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa jika bangsa itu sendiri yang berjuang mengubahnya.

Bayangkan jika para pemimpin dan intelektual kita di masa lalu tidak peduli dan tidak merencanakan perubahan, atau sekedar bermimpi tentang kemerdekaan tanpa gerakan dan pertaruhan jiwa raga di medan laga maupun meja perundingan. Ambyarlah bangsa kita. Indonesia takkan pernah ada. Tercabik-cabik menjadi negara-negara boneka bancakan penjajah.

Kita sedang menarik sejarah kebangkitan ke hari-hari ini. Saat kaum muda dan terpelajar terjun langsung berjuang merencanakan kemerdekaan dan menabur benih lahirnya bangsa Indonesia. Melalui organisasi Budi Utomo, para pelajar dan mahasiswa kaum intelektual meletakkan dasar kebangkitan bangsa kita. Sebelumnya organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) didirikan untuk melindungi ekonomi rakyat dari ketidakadilan penjajah. SDI kemudian berubah menjadi organisasi pergerakan kebangkitan secara luas yang kita kenal sebagai Sarekat Islam (SI). Setelahnya bermunculan berbagai organisasi pergerakan termasuk Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah untuk perjuangan sosial, ekonomi, pendidikan dan keagamaan dengan tujuan merdeka dan menjadi negara berdaulat: Indonesia.

Rangkaian Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 melahirkan energi pergerakan rakyat yang massif terutama di kalangan anak muda dan kaum terpelajar. Hal ini kemudian melahirkan upaya mempersatukan kekuatan pemuda dalam suatu momentum pertemuan nasional 20 tahun kemudian, yaitu, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai deklarasi soft launching negara bangsa Indonesia. Lalu bersemai kuat dalam perjuangan rakyat hingga tercetuslah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Strategi Perjuangan

Pilihan strategi kebangkitan nasional melalui jalur perjuangan non kombatan, mengedepankan diplomasi, membangun organisasi sosial, penguatan opini, dan bersifat inklusif, ternyata menyulitkan penjajah dalam membendungnya. Kekuatan diplomasi kaum intelektual dan organisasi pergerakan pemuda adalah senjata yang tak dapat dibentengi dengan tameng jenis apapun. Opini yang meluas, organisasi yang rapi, dan kehendak yang kuat pada tujuan perjuangan, yakni merdeka dan berdaulat.

Mohammad Hatta mendeklarasikan perang diplomasi di tanah penjajah melalui Perhimpunan Indonesia. Soekarno membacakan pleidoi “Indonesia Menggugat” dari balik penjara Sukamiskin. Teriakan “Indonesia Merdeka” pun menggema dari para pemuda di berbagai daerah. Jong Sumatera, Jong Java, Jong Celebes, Jong Borneo, Jong Ambon, semua ingin merdeka dan lahirnya negara bangsa berdaulat.

Itulah suasana batin perjuangan saat itu, yang digerakkan oleh energi jiwa para pemuda dan kaum intelektual dalam barisan organisasi yang kokoh. Gerakan inilah yang menggelinding bagai bola salju membentuk gelombang rakyat yang tak dapat dihentikan penjajah. Tujuan perjuangan akhirnya terwujud: Merdeka!

Merencanakan Masa Depan

Dengan mengulangi strategi perjuangan para pejuang pendahulu kita dalam upaya mempersiapkan kemerdekaan itu sudah cukup untuk membuat kita bangkit kembali. Apalagi kalau kita menyusun strategi yang lebih matang, hasilnya akan jauh lebih baik. Kompleksitas yang dialami manusia jaman now hanyalah perulangan dari sejarah manusia dan peradaban masa lalu pada umumnya. Hanya sedikit perubahan dengan modifikasi dan bumbu teknologi. Mental dan otak manusia relatif sama yang dikaruniakan Allah. Jenis karakter manusia dan bangsa juga relatif sama, ada karakter manusia dan bangsa penindas, ada karakter pejuang, ada pecundang, dan sebagainya.

Merencanakan kebangkitan terangkum indah dalam firman Allah, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berjuang di jalanNya dalam barisan yang teratur laksana bangunan yang kokoh”. Membangun organisasi yang kokoh dengan karakter pergerakan yang kuat dimana di dalamnya terkumpul ide dan gagasan, narasi dan strategi, manpower, dan sumber daya yang efektif. Itulah sejatinya persiapan kebangkitan.

Sejarah kebangkitan nasional mengajarkan kita perencanaan strategi kebangkitan dengan soft power melalui pengorganisasian SDM berkualitas yang terdiri dari pemuda dan terpelajar. Kolaborasi generasi muda milenial saat ini dengan kekuatan hampir 40 persen struktur demografis Indonesia, dengan guidance kaum intelektual dan pengalaman bernegara para tokoh bangsa, sungguh suatu kekayaan yang tak ternilai. Dengan membangun organisasi yang berisi SDM berkualitas tersebut, kita makin dekat dengan perubahan menuju kebangkitan.

Gelombang Rakyat

Rakyat akan bergerak dalam pergerakan yang dinamis menuju kebangkitan dengan terpenuhinya syarat tadi, yaitu kolaborasi kuat setiap elemen bangsa.

Saat ini hadir sebuah organisasi politik yang mengupayakan kebangkitan Indonesia menuju kekuatan dunia yang diperhitungkan dalam percaturan internasional. Namanya GELORA, Gelombang Rakyat. Baru saja disahkan Kemenkumham RI pada 19 Mei 2020, tepat menjelang peringatan hari kebangkitan nasional 20 Mei 2020. Tema-tema inklusif dan nasionalisme GELORA sangat menggugah dan memberi inspirasi anak-anak muda dan rakyat Indonesia di tengah tajamnya perbedaan dan sulitnya membangun sinergi dalam berbangsa.

Inspirasi kebangkitan nasional diharapkan dapat melahirkan gagasan besar yang mengisi energi jiwa GELORA dalam perjalanan bernegara ke depan. Kolaborasi efektif setiap kekuatan bangsa akan mendorong lahirnya pergerakan gelombang rakyat membangkitkan kembali Indonesia.

Selamat.*


Baca juga:
Meluruskan Kembali Arah Reformasi: Suatu Refleksi
Efek COVID-19: Dunia Menuju Keseimbangan Baru
Dampak Pandemik COVID-19

Silakan kunjungi fans page kami:
Facebook
Instagram

PERDANANEWS JABAR