by

Mei 1998: Detik-Detik Runtuhnya Orde Baru

Dalam rangka 22 tahun Reformasi Indonesia yang jatuh pada 20 Mei 2020 lalu, Perdananews Jabar akan menghadirkan catatan peristiwa di sekitar itu. Berikut ini adalah catatan dari seorang jurnalis senior, Hanibal Wijayanta tentang peristiwa itu. Catatan ini kami sadur secara utuh dari laman Facebook beliau disini. Selamat menikmati!


Hanibal Wijayanta
Jurnalis Senior


Hari ini, tak terasa, dua puluh tahun telah berlalu, ketika sebuah peristiwa besar yang kemudian menjadi tonggak sejarah bagi bangsa ini terjadi: Runtuhnya Orde Baru, dan dimulainya Orde Reformasi. Meski kini seolah hanya ditandai dengan Berhentinya HM Soeharto dari Kursi Kepresidenan pada tanggal 21 Mei 1998, namun sesungguhnya banyak peristiwa lain yang mengawali, dan banyak pula peristiwa selanjutnya yang mengikuti. Alhamdulillah, saat itu saya ikut menjadi saksi berbagai peristiwa itu.

Saat itu saya baru berumur 28 tahun, dan baru empat tahun menjadi wartawan. Ketika itu, baru sekitar satu tahun saya diangkat menjadi redaktur di Majalah Forum Keadilan. Sebagai Penanggung Jawab Rubrik Nasional, saya mendapat tugas dari rapat redaksi untuk membuat hampir seluruh penugasan untuk edisi Reformasi ini, dan menulis dua item utama. Belum lagi liputan mendalam dan menyusup di kalangan Cendana, Kelompok Militer –baik Kubu Prabowo maupun Kubu Wiranto—serta kasak-kusuk di sekitar Kubu BJ Habibie, bersama Penanggung Jawab Rubrik Wawancara, Tony Hasyim.

Seiring dengan perkembangan pergulatan politik dan kesibukan meliput berbagai peristiwa yang terjadi saat itu, waktu seolah berjalan sangat cepat dan tak terasa hari sudah Jumat, Deadline terakhir. Padahal ada dua tulisan panjang harus saya tulis. Satu tentang persaingan antara Prabowo Subianto versus Wiranto, dan satu lagi tentang perkembangan politik saat Habibie menyusun Kabinet.

Tulisan pertama –soal konflik Klik Prabowo vs Klik Wiranto saya sanggup menulis, sementara tulisan yang satu –Penyusunan Kabinet Habibie– pasti perlu waktu lagi sehingga deadline bisa terlewat. Maka saya kemudian meminta bantuan kawan Zuhri Mahrus, Redaktur Pelaksana Laporan Khusus untuk menuliskan hasil reportase saya, karena saya belum sempat membuat laporan tertulis, sementara hasil liputan dan wawancara semua masih ada di kepala saya, catatan di notes, serta hasil rekaman wawancara di kaset. Zuhri pun menyanggupi. Lalu, selama satu jam lebih secara runut saya bercerita secara oral kepada Kawan Zuhri tentang segala pertemuan, reportase, dan wawancara saya dengan berbagai tokoh politik, ketika Habibie hendak menyusun Kabinet.

Setelah saya bercerita lengkap dari A sampai Z tentang apa yang saya lihat, saya dengar, dan saya tanyakan kepada para narasumber saat Habibie menyusun Kabinet, Zuhri mungkin hanya butuh waktu dua tiga jam untuk merapikan “laporan RRI” itu menjadi tulisan yang bagus. Saya acungi jempol ke Zuhri kehebatannya ini. Lalu, saya mulai menulis tentang konflik yang terjadi antara Kelompok Prabowo versus Kelompok Wiranto.

Majalah Forum Keadilan edisi Reformasi terbit dengan cover berjudul Setelah Soeharto Mundur. Apa Lagi? Bukan bermaksud menyombongkan diri, tapi isi majalah Forum Keadilan saat itu paling lengkap dan paling detail di antara media-media lainnya, karena kami mengikuti secara langsung detail peristiwa dari hari ke hari di berbagai kubu elit politik, meski belum mampu membongkar seluruh jelaga misteri yang terjadi. Nah, bagaimana rincian detik-detik Runtuhnya Orde Baru, berikut laporan Majalah Forum Keadilan edisi 25 Mei 1998.


Comment

PERDANANEWS JABAR