by

False Sense of Security karena Penggunaan Masker

Di tengah rencana pemerintah melonggarkan kebijakan PSBB di sejumlah kota, kita perlu mewaspadai timbulnya false sense of security dari penggunaan masker.


Oleh: Lhuri Rahmartani, MD, M.Epid.

Di tengah rencana pemerintah Indonesia melonggarkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar di Jakarta dan sejumlah kota untuk memulai “normal baru”, kita perlu mewaspadai timbulnya false sense of security (rasa aman palsu) dari penggunaan masker.

Istilah ini mengacu pada perasaan aman atau terlindungi dari risiko tertular coronavirus dengan hanya memakai masker sehingga orang mengabaikan upaya perlindungan lainnya seperti mencuci tangan dan menjaga jarak fisik antarindividu di ruang publik, tempat ibadah, dan tempat kerja. Padahal, semua cara itu harus dilakukan secara bersamaan untuk mendapat efek pencegahan yang optimal.

Pada 5 Juni 2020 lalu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merevisi pedoman tentang masker dan akhirnya merekomendasikan masker untuk dipakai orang awam guna mencegah penularan COVID-19. Dalam pedoman sebelumnya, terbitan 6 April 2020, WHO tidak merekomendasikan masker bagi masyarakat awam karena berpandangan bahwa belum ada bukti yang cukup bahwa masker bisa mencegah COVID-19.

Di Indonesia, gerakan #MaskerUntukSemua telah dikampanyekan dalam dua bulan terakhir dan saatnya kita melihat masalah yang muncul di masyarakat. Masalahnya, menguji efektivitas masker di tingkat komunitas tidak ‘semudah’ bereksperimen di laboratorium atau uji klinis. Para ahli berbeda pendapat mengenai kekuatan bukti riset dan apakah masker layak menjadi rekomendasi pencegahan COVID-19.

Kenapa baru sekarang?

Berbeda dengan cuci tangan dan jaga jarak, masker adalah kebijakan yang diwarnai perdebatan baik di level ilmuwan maupun organisasi kesehatan dunia yang kredibel. Ketika Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat sudah mengimbau penggunaan masker kain sejak 3 April 2020, bahkan menyediakan tutorial di situsnya, rekomendasi WHO dalam pedoman terbitan 6 April 2020 tidak demikian.

WHO menyatakan bahwa masker hanya untuk orang sakit atau orang yang berkontak dengan pasien COVID-19 dan kebijakan tentang masker menjadi kewenangan setiap negara. Kebijakan ini sempat dikritisi. Sekarang, akhirnya WHO merekomendasikan penggunaan masker dan/atau penutup wajah sebagai upaya pencegahan penularan COVID-19 bagi masyarakat awam di area dengan kasus COVID-19.

Kebijakan masker tidak seragam di berbagai negara dan hal ini juga sempat membingungkan rakyat. Cina dan Taiwan, misalnya, sudah menganut aliran pro-masker jauh sebelum era COVID-19, sementara negara-negara Eropa seperti Ceko dan Jerman baru mulai ‘hijrah masker’ sejak pandemi, tapi dengan tanggal yang berbeda-beda.

Selain faktor budaya, perbedaan ini juga dipengaruhi oleh perdebatan saintifik. Dalam dunia kesehatan, ilmu pengetahuan terus berkembang dan perdebatan para ahli adalah bagian dari dinamika tersebut. Rekomendasi kesehatan bisa berubah seiring ditemukannya bukti-bukti baru.

Comment

PERDANANEWS JABAR