by

Hari Pahlawan 2020: Sebuah Renungan

Oleh: Boy Anugerah

Hari ini, 10 November 2020, bangsa Indonesia memperingatinya sebagai hari pahlawan. Peringatan hari pahlawan tahun ini terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Saya katakan demikian karena hingga detik ini, kita semua masih “bertarung” melawan pandemi COVID-19 yang masih belum bisa diprediksi kapan akan berakhir. Sementara itu, realitas sosial, politik, dan ekonomi di masyarakat sebagai aspek-aspek terdampak pandemi bergerak sangat cepat dan dinamis.

Terkadang dinamika tersebut sendiri menghasilkan semacam gesekan dan tumbukan sehingga menghadirkan kerawanan terhadap stabilitas nasional, sebut saja resesi ekonomi dan meningkatnya jumlah pengangguran sebagai contoh. Oleh sebab itu, saya hendak mengajak sidang pembaca yang terhormat untuk menjadikan momen peringatan hari pahlawan tahun ini sebagai momen kontemplasi untuk menyelami kembali makna pahlawan dan kepahlawanan, serta mencari relevansinya dengan tantangan hari ini.

Memberi Pemaknaan

Bagaimana anda memaknai hari pahlawan? Pertanyaan ini perlu saya ajukan agar kita semua memiliki pemahaman yang utuh, dan dengan pemahaman yang utuh tersebut dapat bergerak beriringan dalam berkontribusi sebesar-besarnya bagi bangsa dan negara. Kata “utuh” menjadi penting karena masih banyak pihak yang hanya memaknai hari pahlawan sebagai sebuah penghormatan terhadap para pejuang di masa revolusi fisik yang mengangkat senjata demi mengusir kaum kolonial saja.

Secara historis, pandangan itu benar adanya, tidak keliru. Penetapan tanggal 10 November sebagai hari pahlawan merujuk pada aksi heroik arek-arek Suroboyo yang bertempur melawan tentara Sekutu yang hendak menguasai kembali Indonesia yang sudah merdeka. Namun demikian, apabila kita rujukkan pada milieu dan tempo saat ini, definisi seperti ini terasa kurang relevan. Kita tidak lagi hidup di zaman kolonial. Kita hidup di sebuah zaman yang jauh lebih kompleks dan penuh tantangan dibandingkan dengan masa revolusi fisik.

Yang hendak saya katakan adalah, pemaknaan terhadap hari pahlawan adalah sesuatu yang penting. Perayaan hari pahlawan seharusnya bukan sekedar peringatan atau seremonial belaka, tapi menjadi sebuah momen untuk membangkitkan kembali ruh perjuangan, menghidupkan kembali spirit nasionalisme dan patriotisme anak bangsa yang dengan ikhlas dan tanpa pamrih berjuang bagi kemerdekaan Indonesia di masa lampau. Milieu dan waktunya boleh berubah, melintas dan menembus 75 tahun pasca proklamasi kemerdekaan 1945. Akan tetapi yang tetap dijaga adalah ruh perjuangan dan spirit nasionalisme dan patriotisme agar tetap hidup dan menyala di hati dan pikiran segenap bangsa Indonesia saat ini.

Struktur berfikir seperti itu akan menuntun kita dalam memaknai pahlawan dan kepahlawanan hari ini. Pahlawan dan kepahlawanan bukan hanya sebutan bagi mereka yang mengangkat senjata saja, tapi bagi siapapun yang memiliki ruh perjuangan dan spirit berkorban untuk bangsa dan negaranya.

Perenungan

Untuk menjadi pahlawan dan memiliki semangat kepahlawanan tersebut tentu tidak mudah. Butuh kehendak (karsa) dan komitmen yang kuat untuk meleburkan segala kepentingan diri dan golongan, ikhlas dan rela berkorban semata-mata demi kemajuan bangsa dan negara. Yang menjadi poin penting di sini adalah bagaimana bangsa Indonesia hari ini mampu memiliki ruh perjuangan dan spirit patriotisme seperti yang pernah ditunjukkan oleh para pejuang di masa lampau. Untuk mencapai itu, dibutuhkan sebuah perenungan mendalam dan penggalian secara utuh terhadap fenomena masa lampau.

Melalui perenungan terhadap peristiwa 10 November 1945 di Surabaya misalnya, kita akan menemukan banyak hal untuk mempertebal nasionalisme dan patriotisme yang mungkin mulai luntur. Setidaknya ada dua hal penting yang bisa diambil. Pertama, meskipun kekuatan antara pejuang yang berkolaborasi dengan rakyat tidak seimbang dengan amunisi yang dimiliki oleh tentara kolonial (gabungan Inggris dan Belanda), para pejuang tidak gentar dan sanggup memberikan perlawanan yang sengit.

Kedua, seluruh elemen masyarakat bercampur menjadi satu, tanpa sekat-sekat ras, agama, atau golongan. Semuanya melebur menjadi satu kekuatan, yakni bangsa Indonesia yang hendak mempertahankan kemerdekaan dan marwah kedaulatannya sebagai bangsa.

Tantangan dan Komitmen

Tentu saja untuk menebalkan semangat kebangsaan tidak semata-mata dengan merujuk pada peristiwa Surabaya saja. Kita bisa berkhidmat merenungi perjuangan Cut Nyak Dien di Aceh, Pangeran Diponegoro di Pulau Jawa, Pattimura di Maluku, dan masih banyak lagi. Dengan melakukan perenungan terhadap momen-momen sejarah kepahlawanan tersebut, diharapkan kita semua sebagai generasi penerus bangsa terpantik dan terdorong semangat perjuangannya untuk menjawab tantangan kebangsaan hari ini, sesuai dengan kapasitas dan bidang yang kita geluti masing-masing.

Siapapun dapat menjadi pahlawan. Siapapun bisa berkontribusi bagi bangsa dan negaranya. Jika ini sudah terpatri erat di hati dan pikiran segenap bangsa Indonesia, apapun yang menjadi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan yang dihadapi bangsa ini, maka akan dapat dicarikan solusinya dan diselesaikan secara bersama-sama.

Ada banyak tantangan kebangsaan hari ini, yang mana semuanya membutuhkan sikap kepahlawanan untuk mengatasinya. Wilayah kita terdiri atas beribu-ribu pulau. Satu pulau dengan pulau lainnya dipisahkan oleh perairan. Kondisi ini yang menyebabkan kerentanan terhadap kedaulatan nasional. Bangsa Indonesia tersusun atas beragam suku, ras, agama, dan golongan. Tidak semua orang memandang ini sebagai khazanah bangsa. Masih ada pihak-pihak yang mengkomodifikasi konfigurasi demografis ini untuk melemahkan persatuan dan kesatuan.

Pandemi COVID-19 hari ini, telah melemahkan sendi-sendi perekonomian. UMKM misalnya, yang pada masa krisis moneter 1998 menjadi pilar perekonomian, justru menjadi aktor ekonomi yang paling terdampak. Para pelaku usaha besar seperti BUMN dan korporasi swasta, banyak yang kolaps karena tidak mampu menopang biaya operasional. Kita akhirnya, suka tidak suka, terjerumus ke lubang resesi ekonomi setelah dua kuartal berturut-turut minus pertumbuhan ekononominya.

Masih banyak lagi ancaman dan tantangan yang kita hadapi. Semuanya membutuhkan semangat kepahlawanan dari segenap anak bangsa untuk mengatasinya. Untuk itu, peringatan hari pahlawan tahun ini menjadi penting untuk membangkitkan kembali spirit yang dimiliki oleh para pejuang kita di masa lampau.

Akhir kata, pada kesempatan ini, marilah kita bersama-sama menundukkan kepala, mengheningkan cipta kita barang sejenak, menyatukan seluruh jiwa dan raga kita untuk memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada mereka yang telah tulus berjuang tanpa pamrih dalam mencapai kemerdekaan dan mengisi pembangunan nasional, namun telah mendahului kita dan berada di alam sana.

Kita juga wajib memberikan pengormatan yang setinggi-tingginya kepada para petugas medis: dokter, perawat, dan awak medis lainnya, yang berdiri di garis depan dalam penanganan pandemi Covid-19, baik yang telah gugur maupun masih berjuang dalam menunaikan tugasnya. Semoga mereka yang wafat diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, sementara kita semua yang masih sehat diberikan limpahan kekuatan, kelapangan, komitmen, dan spirit perjuangan yang kokoh untuk terus melanjutkan cita-cita perjuangan mereka.

Melalui peringatan hari pahlawan ini, marilah kita rekat persatuan dan kesatuan bangsa, menghidupkan kembali spirit gotong royong, serta membangkitkan rasa kecintaan terhadap bangsa dan negara. Jadilah pahlawan di manapun kalian berada. Selamat hari pahlawan.*


Baca juga:
Gegar Budaya Akibat COVID-19

Comment

PERDANANEWS JABAR